Malangnya nasib Maulwi Saelan ajudan kesayangan Soekarno, dipenjara oleh Soeharto tanpa proses peradilan
0 menit baca
Perjalanan hidup Kolonel CPM (Purn.) Maulwi Saelan adalah kisah tentang pengabdian, kesetiaan, dan ujian berat yang dialami seorang putra bangsa di tengah pergolakan sejarah Indonesia.
Nama Maulwi Saelan dikenal luas sebagai penjaga gawang legendaris Tim Nasional Indonesia yang tampil gemilang pada Olimpiade Melbourne 1956. Namun, di balik prestasi olahraganya, ia juga merupakan seorang perwira TNI dan ajudan yang sangat dekat dengan Presiden Soekarno.
Selama bertugas mendampingi Presiden Soekarno, Maulwi Saelan mengaku mendapatkan perlakuan yang baik dari Sang Proklamator. Hubungan yang terjalin bukan sekadar hubungan antara atasan dan bawahan, melainkan juga hubungan yang dilandasi rasa saling percaya. Sebagai anggota Resimen Tjakrabirawa yang bertugas mengawal keselamatan presiden, ia mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk menjalankan tugas negara.
Namun, keadaan berubah drastis setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S). Situasi politik nasional saat itu sangat tegang. Berbagai institusi dan individu yang memiliki kedekatan dengan Presiden Soekarno ikut menjadi sorotan dalam proses konsolidasi kekuasaan yang berlangsung setelah peristiwa tersebut.
Menurut kesaksian Maulwi Saelan yang pernah disampaikannya dalam berbagai wawancara, setelah pembubaran Resimen Tjakrabirawa dan berakhirnya masa tugasnya sebagai ajudan presiden, ia dipanggil untuk menjalani pemeriksaan. Meski merasa dirinya bukan anggota maupun pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI), ia tetap menghadapi berbagai tuduhan yang berkembang pada masa itu.
Dalam keterangannya, Maulwi mengungkapkan bahwa dirinya kemudian ditahan selama kurang lebih lima tahun tanpa pernah menjalani proses peradilan yang jelas. Selama masa penahanan tersebut, ia berulang kali berusaha mencari kejelasan mengenai status hukumnya, namun tidak memperoleh jawaban yang memuaskan.
Masa-masa itu menjadi salah satu periode paling kelam dalam kehidupannya. Dari seorang perwira TNI, mantan ajudan presiden, sekaligus tokoh olahraga nasional, ia harus menjalani kehidupan sebagai tahanan politik di tengah situasi negara yang sedang mengalami perubahan besar.
Setelah sekitar lima tahun berada dalam tahanan, Maulwi Saelan akhirnya dibebaskan. Pembebasan tersebut sekaligus menandai berakhirnya salah satu bab paling berat dalam perjalanan hidupnya.
Meskipun pernah mengalami perlakuan yang pahit, Maulwi Saelan tidak dikenang karena kisah penahanannya semata. Ia tetap dihormati sebagai pejuang kemerdekaan, perwira TNI yang mengabdi kepada negara, penjaga gawang legendaris Tim Nasional Indonesia, Ketua Umum PSSI, serta sosok yang pernah menjadi orang kepercayaan Presiden Soekarno.
Hingga akhir hayatnya pada 10 Oktober 2016, Maulwi Saelan tetap dikenang sebagai salah satu tokoh yang hidup di persimpangan sejarah Indonesia menjadi saksi sekaligus pelaku dalam berbagai peristiwa penting yang membentuk perjalanan bangsa.
Khutoni