Di panggung kepolisian Indonesia, nama Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Dr. Boy Rafli Amar, M.H., dikenal sebagai sosok yang teduh namun tegas. Purnawirawan jenderal bintang tiga ini bukan hanya seorang perwira tinggi kepolisian, melainkan juga seorang intelektual dan pemangku adat yang menyandang gelar kehormatan Datuak Rangkayo Basa.
Sepanjang pengabdiannya, mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini telah membuktikan bahwa kekuatan komunikasi dan pendekatan humanis adalah senjata penting dalam menjaga stabilitas keamanan nasional.
Darah Sastrawan dan Akar Minangkabau
Lahir di Jakarta pada 25 Maret 1965, Boy Rafli Amar membawa warisan intelektual yang kuat dalam nadinya. Ia merupakan cicit dari sastrawan legendaris Indonesia, Aman Datuk Madjoindo. Darah Minangkabau mengalir kental dari ayahnya yang berasal dari Solok dan ibunya yang berasal dari Koto Gadang, Kabupaten Agam.
Kedekatannya dengan akar budaya dibuktikan pada November 2013, ketika ia resmi diangkat sebagai kepala kaum Suku Koto di Nagari Koto Gadang. Sebagai Datuak Rangkayo Basa, Boy mampu menyeimbangkan peran antara penegak hukum yang disiplin dengan pemimpin adat yang mengayomi.
Karier Gemilang: Dari Reserse Hingga Misi Internasional
Boy Rafli adalah lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) 1988 yang memiliki kepakaran mendalam di bidang reserse. Perjalanan kariernya diwarnai dengan berbagai penugasan strategis, termasuk pengalaman di kancah global. Saat masih berpangkat Letnan Kolonel (sebelum terminologi pangkat berubah), ia dipercaya menjadi Wakil Komandan Kontingen Garuda XIV di Bosnia pada tahun 1999.
Kepiawaiannya dalam berkomunikasi membuat namanya melejit saat menjabat sebagai Kepala Divisi Humas Polri. Di sana, ia menjadi wajah Polri yang ramah namun lugas dalam menyampaikan informasi kepada publik. Kariernya terus menanjak hingga dipercaya menjabat sebagai Kapolda Banten, Kapolda Papua, hingga Wakil Kepala Lemdiklat Polri.
Puncak Pengabdian di BNPT
Puncak karier militernya tercapai saat ia ditunjuk memimpin Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Di bawah kepemimpinannya, BNPT tidak hanya fokus pada penegakan hukum, tetapi juga gencar melakukan pendekatan soft approach melalui program deradikalisasi.
Di sela kesibukannya menjaga negara, semangat belajarnya tidak pernah padam. Ia berhasil meraih gelar Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran pada tahun 2019, sebuah pencapaian yang mempertegas kapasitasnya sebagai ahli komunikasi strategis yang mumpuni.
Masa Purnabakti: Legasi Kesantunan dan Ketegasan
Boy Rafli Amar kini telah memasuki masa purnabakti, namun warisannya tentang gaya kepemimpinan yang santun dan komunikatif tetap menjadi teladan di tubuh Polri. Ia adalah bukti nyata bahwa seorang jenderal bisa menjadi intelektual sekaligus penjaga adat yang taat.
Bersama istrinya, Irawati, dan kedua buah hatinya, Sang Datuak kini menikmati masa purnabakti dengan tetap memberikan inspirasi bagi generasi muda, khususnya putra-putri Ranah Minang, untuk terus berprestasi setinggi langit tanpa melupakan akar budaya sendiri.
Detik wib
Yanto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar