Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan monetag 1

Mengenang Putra Terbaik dari Lintau: Doni Monardo, Sang Penyelamat di Tengah Badai Pandemi

12 Februari 2026 | 15:36 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-12T08:37:01Z

Indonesia kembali mengenang kepulangan salah satu putra terbaiknya, Letjen TNI (Purn) Doni Monardo. Sosok jenderal bintang tiga yang menjadi simbol ketenangan negara saat dihantam krisis kesehatan global ini, bukan sekadar seorang prajurit, melainkan maestro strategi kemanusiaan yang jejaknya abadi di hati rakyat.

Akar Lintau dan Karakter Baja
Lahir dari rahim budaya Minang yang kuat, Doni Monardo selalu bangga dengan asal-usulnya. Garis keturunannya menghujam di Lintau, Kabupaten Tanah Datar, sebuah nagari yang membentuk karakter disiplin sekaligus kepedulian sosialnya yang tinggi. Meski meniti karier cemerlang hingga menjabat sebagai Danjen Kopassus, Doni tak pernah kehilangan kerendahhatiannya—ciri khas seorang putra daerah yang tetap membumi di puncak jabatan.

Panglima di Garis Depan Pandemi
Nama Doni Monardo akan selalu terpatri sebagai "Panglima Perang" melawan COVID-19. Saat menjabat Kepala BNPB sekaligus Ketua Gugus Tugas, ia menjadi wajah ketenangan bagi jutaan rakyat yang cemas.

Publik tentu ingat bagaimana ia menjadikan kantornya sebagai markas istirahat, terjaga 24 jam demi memantau data penyebaran virus, dan melahirkan kampanye humanis "Ingat Pesan Ibu". Di tangannya, mitigasi bencana bukan lagi sekadar soal angka, tapi soal menyelamatkan setiap nyawa manusia.

Jenderal yang "Mencintai" Pohon
Selain pandemi, warisan terbesar Doni adalah dedikasinya pada lingkungan. Lewat program "Citarum Harum", ia membuktikan bahwa pertahanan negara dimulai dari menjaga alam. Filosofinya yang melegenda, “Alam tidak pernah ingkar, tetapi manusialah yang sering mengingkari,” menjadi pengingat bahwa kerusakan alam adalah akar dari bencana.

Teladan yang Tak Lekang Waktu
Kepulangan beliau pada 3 Desember 2023 lalu adalah kehilangan besar bagi bangsa. Doni Monardo bukan hanya meninggalkan jabatan, melainkan standar baru dalam kepemimpinan yang modern: cepat, cerdas, namun tetap berhati nurani.

Bagi masyarakat Lintau, ia adalah kebanggaan yang tak ternilai. Bagi Indonesia, ia adalah teladan nyata tentang arti pengabdian tanpa batas—seorang prajurit sejati yang menjaga tanah airnya hingga embusan napas terakhir.





Detik wib
Yanto 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

×
Berita Terbaru Update